Informatika Sosial dan Big Data

Definition of Social Informatics

The interdisciplinary study of the design, uses and consequences of information technologies that takes into account their interaction with institutional and cultural contexts (Kling, 1999)

Pendit (2009) menerjemahkan definisi Social Informatics (SI) merupakan sekumpulan penelitian dan studi yang mempelajari aspek-aspek sosial dari komputerisasi termasuk peran teknologi informasi dalam perubahan sosial dan organisasi. Penelitian-penelitian SI juga berkonsentrasi pada  bagaimana pemanfaatan teknologi informasi dipengaruhi oleh nilai dan praktik-praktik sosial-budaya di sebuah masyarakat.  Di dalam kajian-kajian SI terdapat cabang-cabang khusus seperti :

  1. Dampak sosial dari penerapan komputer (social impacts of computing),
  2. Analisis sosial terhadap komputerisasi (social analysis of computing),
  3. Kajian-kajian  komunikasi berperantaraan komputer  (computer-mediate communication alias CMC),
  4. Kebijakan informasi, informatika organisasi (organizational informatics), informatika interpretif (interpretive informatics), dan sebagainya.

Lebih lanjut Pendit (2009) menguraikan bahwa di dunia perpustakaan dan informasi, social computing dan social informatics jelas sekali memengaruhi pemikiran dan praktik dalam Perpustakaan Digital (digital libraries), khususnya dalam hal peran “orang ketiga”  di antara produsen dan konsumen informasi. Model-model Perpustakaan Digital, misalnya sebagaimana yang terlihat di Model OAIS (Open Archival Information System), jelas sekali berupaya menegaskan peran-peran baru yang dapat dimainkan “orang ketiga” ini. Di dalam kondisi “tradisional” ketika format informasi didominasi oleh barang-barang tercetak, peran pustakawan dan profesi informasi jelas sekali berada di antara produsen dan konsumen. Saat ini, dalam kondisi social computing atau web 2.0 yang sudah melebur batas antara produsen dan konsumen informasi, peran pustakawan dan profesi informasi itu perlu ditinjau kembali. Jika dahulu timbul kesan bahwa pustakawan dan profesional informasi condong ke konsumen, maka sekarang kesan itu harus disesuaikan dengan kenyataan bahwa si konsumen dapat juga sekaligus berperan sebagai produsen (Pendit, 2009).

Istilah social informatics memang masih awam karena masih banyak peneliti yang menggunakan teori-teori seperti technology acceptance model atau reasoned based action untuk mengeksplorasi dampak dari penggunaan teknologi terhadap perilaku manusia maupun kinerja suatu lembaga. Saat ini SI banyak dipelajari karena peneliti menganggap sangat penting untuk menggunakan kajian sosial sebagai dasar untuk mendesain dan mengembangkan sebuah teknologi. Oleh karena wajar jika penelitian mengenai SI selalu melibatkan berbagai macam disiplin ilmu dan selalu berkaitan dengan ilmu informatika. Penelitian SI nampaknya akan semakin menjadi tren ke depan, terkait dengan fenomena internet of thing yang telah dibahas pada postingan sebelumnya, yang berdampak pada pertumbuhan data yang melimpah (Big Data). Sekilas mengenai pertumbuhan data digital,  dari tahun 2013 ke tahun 2015 menunjukkan lonjakan data digital yang sangat signifikan. Menurut berita yang dirilis oleh IDC pada tahun 2013 terdapat 37 exabyte data meningkat menjadi 71 exabyte data dan diprediksi pada tahun 2017 akan terdapat data sebanyak 133 exabyte. Bahkan, tahun 2016 ini diprediksi, trafik internet bakal melampaui satu zettabyte. Menurut laporan Cisco Visual Networking Index yang diulas oleh DetikInet, selama lima tahun ke belakang, trafik internet selalu melonjak. Khusus tahun ini diperhitungkan akan meningkat lima kali lipat. Jika disederhanakan, maka singkatnya 1 zettabyte itu setara dengan 1 triliun gigabyte (GB). Bila satu film high definition (HD) berdurasi 2 jam berukuran 1,5 GB, maka 1 zettabyte itu setara dengan 152 juta tahun film HD. (bayangin aja tuh kalau itu filmnya drama korea ato serial India he3).

Senada dengan Pendit, Mursyid juga menguraikan lebih rinci peran pustakawan untuk berperan aktif dalam mengelola dan mendistribusikan data yang melimpah tersebut. Nantinya, data-data tersebut dapat digunakan untuk membantu proses penelitian dan pengkajian.Hal ini tentu sesuai dengan salah satu fungsi perpustakaan, yaitu penelitian. Pihak perpustakaan harus terlebih dahulu memahami data repository sebagai langkah awal menuju data library (Priyanto dalam Mursyid 2016). Repository data merupakan syarat awal bagi perpustakaan dalam mengembangkan layanan perpustakaan data. Dalam membangun perpustakaan data, perpustakaan tidak dapat berdiri sendiri, melainkan dibangun secara bersama.Untuk itu, dalam perpustakaan data ini, perpustakaan dapat melakukan data sharing (berbagi data) ke dalam sebuah satu repositori yang terintegrasi dengan beberapa repositori data perpustakaan.Untuk dapat mewujudkannya, tentunya dibutuhkan sosok pustakawan yang memiliki kemampuan sebagai analis data (data analyst) yang dapat mengelola data sekaligus mengoperasikan tools atau perangkat kerja untuk mendukung proses pengolahan data besar menjadi sebuah informasi di perpustakaan (Mursyid, 2016).

Referensi:
Kling, R. (1999). What Is Social Informatics and Why Does It Matter. The Information Society, 23: 205–220, 2007 DOI: 10.1080/01972240701441556
Mursyid, M. (2016). Big Data in Library: A New Challenge for the Future Librarian in Indonesia. Proceeding in Science Mapping, UGM: Yogyakarta.
Priyanto, Ida Fajar. 2016. Memory, Cognition, and Disruptive Technology, Materi Kuliah Isu-isu Kontemporer Informasi. Yogyakarta: Program Studi Kajian Budaya dan Media Minat Studi Manajemen Informasi dan Perpustakaan UGM.
Pendit, P.L. (2009). Social Computing dan Perpustakaan Digital. Diakses dari https://iperpin.wordpress.com/2009/02/15/social-computing-dan-perpustakaan-digital/

Rahman, A.F. (2016). Trafik Internet 2016Tembus Zettabyte. Diakses dari http://inet.detik.com/read/2016/02/08/091208/3136904/398/

 

Advertisements

4 thoughts on “Informatika Sosial dan Big Data”

  1. wew… mungkin gak y mb tar muncul lembaga data atau informasi n itu terpisah dari perpus?? kaya pembedaan lmbga perpus dan arsip gt.. ato tar bs jdi perpus n arsip n informasi?? krna kdpn mngkin bnyk data yg dibutuhin org selain dr buku ato arsip (tentu msh dlm bidang ildok)

    Like

  2. big data benar-benar membutuhkan teknologi yang dapat mengelola data dalam jumlah besar. Dulu mungkin data yang kita hasilkan sangat kecil tetapi kini data tiap menit muncul dalam jumlah besar.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s